Gereja Kristen Nafiri Sion Agape

23Sep/11Off

Jangan Sembarangan Bersandar

Banyak orang didunia ini tidak terkecuali orang Kristen, mengalami kekecewaan dalam hidupnya, karena salah bersandar. Banyak orang yang mulanya hanya tergelincir ,tetapi kemudian terjatuh, karena sandaran tempatnya berpegang tidak kuat. Dan banyak orang yang jatuh karena mereka sembarangan mencari tempat bersandar.

Kepada kita orang percaya, Alkitab menuliskan nasehat untuk memilih tempat bersandar yang benar,tempat bersandar yang kuat,yang dapat diandalkan dan tidak akan mengecewakan kita.  Dalam Amsal 3 : 5 dituliskan : “ Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar  kepada pengertianmu sendiri “. Bahkan raja Salomo yang  termasyhur karena hikmat dan kepandaiannya pun   menasehatkan  kepada kita bahwa hanya Tuhan saja yang menjadi tempat sandaran kita dan bukan kepada pengertian,nalar,pikiran dan logika kita.

Ketika dunia ini semakin menuntut banyak dari kita, banyak orang mengambil sikap mengandalkan kekuatan sendiri, pikiran,logika,analisa bahkan ramalan dan perkataan para dukun dan peramal sebagai sandaran, Mereka mencari solusi dan penyelesaian kemana mana,ke Barat, ke Timur, ke Utara dan Selatan .Banyak orang yang mencoba  percaya kepada Tuhan berdasarkan nalar dan logika,mereka menginginnkan mujizat terjadi terlebih dahulu,sebelum percaya, banyak yang menunggu bukti dulu,untuk percaya pada Tuhan..seperti sikap Thomas yang meminta tanda dahulu sebelum ia percaya. Tuhan berkata : Berbahagialah orang yang percaya tapi tidak melihat.

Percaya sepenuhnya pada Tuhan mengandung pengertian,kita percaya tanpa memperhitungkan nalar,logika dan pikiran,karena nalar dan pikiran kita sangat terbatas,sementara kuasa Allah tidak terbatas. Ketika kita percaya dengan segenap hati dan bersandar kepada Tuhan,maka kita akan dapat melihat bahwa hidup ini bukan sekedar mampu berfikir tetapi juga dapat mengerti mengenai kuasa Allah dan apa yang ada diluar jangkauan pikiran kita.

Dalam Mazmur 73 diayat ayat awal dituliskan seorang bernama Asaf, ia  adalah seorang pemimpin pujian, ia seorang hamba Tuhan, pelayan Tuhan. Asaf bertanya mengenai sesuatu yang  tidak dapat ia pahami menurut pikirannya, yaitu kehidupan orang orang fasik yang sepertinya lebih baik dari kehidupan orang orang percaya,orang orang yang takut dan taat pada Tuhan,orang orang  yang melayani Tuhan,seperti dirinya. Dan ini seringkali juga menjadi pertanyaan kita,mengapa ketika sudah bertobat dan percaya Tuhan,hidup semakin banyak persoalan, mengapa sudah melayani Tuhan, hidup makin bergumul, mengapa sudah membayar perpuluhan,masih juga tertipu ? dan Asaf bertanya seperti mengugat Tuhan. Tetapi seperti dalam ayat 16,Asaf berkata semakin dipertanyakan,semakin menekan dan menyulitkan pikirannya. Sampai akhirnya pada ayat ke 17 disebutkan  ketika  ia masuk kedalam hadirat Allah, Asaf melihat sebuah visi, ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan pertanyaannya,bahwa hidup ini adalah sementara,hidup ini adalah persinggahan, hidup ini hanyalah waktu memproses kita,melengkapi kita supaya kita membawa bekal sampai kepada ujung  yang kekal, dan ketika masuk dalam kekekalan,orang fasik akan habis. Akhirnya Asaf menemukan tujuan hidupnya,yaitu Tuhan,sandarannya bukan lagi pengertian dari pikirannya,tetapi Allah,gunung batu tempatnya bersandar yang akan membawanya pada kemuliaan-Nya.

Ayub orang yang hidupnya benar dihadapan Allah,seorang yang kesalehanya di puji Tuhan harus mengalami penderitaan yang bertubi tubi. Ayub bertanya kepada Tuhan,Mengapa..? dan seringkali kita juga bertanya,  mengapa hal buruk menimpa orang baik ?. Tuhan tidak memberikan jawaban pada Ayub mengenai keluh kesahnya tapi sebaliknya balik bertanya pada Ayub ( Ayub 38 :4 ) :  Dimanakah engkau ketika Aku meletakan dasar bumi,? Ceritakanlah kalau engkau mempunyai pengertian.” Kemudian Tuhan menyatakan diri sebagai Juru Selamat.Akhirnya  Ayub memahami,bahwa ia dibangkitkan diantara debu.Mata Ayub melihat suatu saat ia dibangkitkan dalam kemuliaan Tuhan.Ayub menyesal dan mencabut perkataan / keluhannya kepada Tuhan.  Akhir dari kisah Ayub adalah sebuah Happy Ending 2x lipat, dan seperti apa yang dikatakannya sendiri, Ayub mengenal Tuhan,bukan dari perkataan orang tetapi dari matanya sendiri.

Dalam 1 Korintus 2 : 9 – 11 Paulus berkata : 9 “Tetapi seperti ada tertulis : Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul didalam hati manusia,  semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. 10.Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh,sebab Roh menyelidiki segala sesuatu ,bahkan hal hal tersembunyi dalam diri Allah. 11.Siapa gerangan diantara manusia yang tahu, apa yang terdapat didalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada didalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam Roh Allah selain Roh Allah.”

Dari ayat ayat yang dituliskan diatas sangat jelas bahwa sangat sulit dan kita tidak bisa menerima hikmat dan kuasa Allah hanya berdasarkan nalar. Dalam Alkitab sendiri,berisi kejadian kejadian,peristiwa peristiwa yang tidak bisa diterima oleh nalar dan pikiran manusia.Bagiamana peristiwa Sara perempuan yang telah mati haid tapi melahirkan anak .Bagaimana perempuan yang telah mengalami pendarahan belasan tahun,sembuh karena tangannya menjamah jubah Yesus, semuanya dinyatakan sebagai hikmat dan kuasa Allah yang mustahil dapat diterima oleh nalar dan logika manusia. Dan celakanya sering kali kita memakai pikiran kita,otak kita,nalar  dan logika kita masuk kedalam wilayah tak terbatas dari kuasa Allah.

Jangan mencoba menganalisa hidup ini dengan pikiran yang terbatas. Untuk mengenal diri kita sendiri saja kita tak bisa,banyak orang yang tidak  tahu apa yang menjadi keinginannya dalam hidup ini. Dan  hal inilah yang menjadi sumber kekecewaan  kita yang terbesar, ketika kita coba mencari jawaban mengenai hidup ini dengan pikiran terbatas. Kita mungkin saat ini telah capek mencari jawaban, tetapi mulai saat ini ketika pikiran kita buntu,nalar kita mentok dan logika kita menemui batasnya,mari kita datang, masuk dalam hadirat Allah, seperti  halnya Asaf dan Ayub,ketika masuk dalam hadirat Allah, ada transformasi, ada mata yang dicelikan,ada hati yang mengerti,ada nalar yang memahami  dan ini diluar jangkauan mata, pikiran dan nalar yang kosong kita,tetapi oleh roh melalui persekutuan roh kita dengan Allah.

Sekali lagi pesan bagi kita,sebagai orang yang percaya,mari kita mengandalkan Tuhan sebagai satu satunya sandaran  bagi hidup kita.Datang kepada-Nya,karena Dia gunung batu dan pelindung yang tak akan pernah mengecewakan

Filed under: Kotbah Comments Off